Fayra - Another Wedding Party

Fayra

Another Wedding Party

We want what we can’t have, we crave those who hurt us and we desire the touch of those who reject us. Time is the king of all men, he is their parent and their grave, and gives them what he will and not what they crave. Human nature.

Aku  tidak  mau  menjadi  hamba  yang  tidak  bersyukur tetapi aku tak bisa terus-menerus menahan diri untuk tidak mengeluhkannya. Orang bijak mengatakan agar bisa bahagia, kita harus mensyukuri apa yang kita miliki dan berusaha untuk tidak menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki. I told you. I tried, tried, and tried. For almost seven years. Tapi setiap kali datang ke acara seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak menginginkannya? I am just an ordinary girl. I want to be married. I want a marriage. Sesuatu yang tidak kumiliki dan aku menginginkannya. Pernikahan. Bukan permintaan yang berlebihan, ya kan?

Danu menghentikan mobilnya persis di depan janur kuning dan spanduk besar yang memberi arahan menuju tempat resepsi salah satu temanku waktu SMA dulu.

Aku menahan napas sejenak. Mempersiapkan diri untuk pertanyaan rutin yang selalu muncul sejak hubunganku dengan Danu memasuki tahun keempat. Pertanyaan standar yang selalu dilontarkan oleh kerabat, kolega, teman lama, yang kami temui dalam setiap resepsi pernikahan yang kami hadiri. “Kapan nyusul?” “Buruan kawin, ntar nyesel lho?” “Tuh, si anu aja anaknya udah dua.”

Semua itu biasanya kujawab dengan standar juga. “Doain aja.” “Enggak lama lagi, kok.” “Iya, tunggu aja undangannya.” Lalu ketika aku bertemu lagi dengan orang yang sama di resepsi berikutnya, pertanyaan mereka akan berkembang menjadi: “Masih belum juga?” “Duh mikirin apa lagi, sih?” “Nikah itu nekat aja, kalau udah nikah rezekinya kan jadi berdua.”

Aku tahu mereka semua benar.

Tapi masalahnya bukan padaku, masalahnya ada pada Danu.

“Hunny, you need time for make up?” tanya Danu. Tangan- nya sudah bergerak untuk membuka pintu mobil.

Aku menyahut bingung. “Hmm?” “Ada yang kamu pikirkan, sayang?”

Bibirku menyunggingkan senyum palsu. Percuma saja mengutarakan apa yang meresahkan pikiranku. Dia hanya akan mematahkan semua yang kukatakan dengan kalimat sederhana. Aku pernah beberapa kali mengungkapkan ke- gundahanku akan pertanyaan orang-orang  ini—tentang hari dimana kamilah yang akan mengundang mereka dan menerima ucapan selamat di pelaminan. Danu malah menjawab bahwa jika aku terganggu dengan pertanyaan orang-orang, satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah tidak datang ke resepsi, atau menebalkan telinga kalau aku memutuskan untuk datang.

Aku enggan mencari tahu apakah Danu memang tidak paham atau pura-pura tidak paham dengan maksudku.

Banyak hal yang membuatku begitu permisif kepadanya, tidak banyak menuntut. Dia lelaki paling baik yang pernah kukenal. Aku mengenalnya sejak awal kuliah hingga ia men- jabat sebagai manajer di sebuah pabrik garmen sekarang ini. Ia menjagaku dan tidak pernah melewati batasan-batasan yang kubuat selama ini. Bersamanya, aku merasa aman.  Aku menjadi saksi ketika ia melewati masa-masa sulitnya menjalani kuliah sambil bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Ya, kehidupan ekonomi kami memang begitu berbeda. Aku terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga mapan, sementara Danu adalah anak sulung dari lima bersaudara yang lahir dalam keluarga sederhana.

“Fay...”

Panggilan lembut Danu menyadarkanku dari lamunan. “Ya, aku mau benerin make up sebentar.”

“Aku tunggu di luar, ya. Mau ngerokok dulu.” Aku mengangguk.

Danu turun dari mobil. Aku melihatnya berjalan menuju warung yang terletak beberapa meter dari tempat kami parkir.

Sepeninggal dirinya, beberapa bulir air mata mengalir perlahan di sudut mataku, meluruhkan sedikit maskara yang kukenakan. Aku menghapus lelehan maskara ini dan memulaskannya lagi sebelum bisa melangkah mantap menuju resepsi Ayla dan Fajar.

***

Ini adalah resepsi pernikahan kesekian puluh kali dalam tujuh tahun hubungan kami. Sewaktu masih kuliah, kami biasa menerima satu atau dua undangan dalam setahun. Hmm, bahkan beberapa temanku berani mengambil risiko menikah saat mereka belum mapan. Lalu, setelah kami memasuki dunia kerja, kami menerima undangan lima sampai enam kali dalam setahun. Bahkan di tahun kedua kami bekerja, kami juga pernah menerima tiga undangan dalam satu bulan sekaligus. Aku menyimpan semua undangan pernikahan itu sebagai pengingat bahwa suatu hari aku pun akan menuju titik itu.

Konsep pernikahan kali ini adalah pesta kebun, tidak begitu banyak kursi yang tersedia dan aku memilih untuk berdiri di dekat meja yang menyajikan berbagai panganan kecil. Bukan mini croissant dan teman-temannya yang membuatku tertarik, tetapi karena dari sisi ini aku bisa melihat pemandangan pelaminan dengan jelas. Oh, how I crave to be like that.

Sejurus kemudian Danu menghampiriku dengan segelas cocktail di tangannya. Menghancurkan bayangan indah yang sedang coba kunikmati.

“Kamu lihat wajah pengantin lelakinya, Fay?” “Ya,” aku menggumam. “He’s cute.”

Danu berdecak kesal. “Bukan itu.”

Kuamati wajah sang pengantin pria baik-baik. Aku tidak melihat ada yang salah di sana.

“Menurutmu apakah dia bahagia?” tanya Danu sementara matanya memandang lurus ke arah pelaminan.

Aku mengalihkan pandangan dari pasangan pengantin itu ke wajah Danu. “Tentu saja dia bahagia. Memangnya apa yang membuat dia tidak bahagia di hari pernikahannya?”

“Menurutku, pengantin perempuan jelas pihak yang paling bahagia. Akhirnya dia berpikir bisa memiliki sang lelaki secara sah di mata hukum, agama, dan masyarakat. Sementara pengantin lelaki sibuk memikirkan bahwa mulai sejak hari ini dia akan kehilangan kebebasan, dia akan dibebani banyak tanggung jawab baru, dan yang paling kasihan kalau semua biaya pernikahan ini dia peroleh dengan cara berutang. Pernikahan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuknya. Dia harus membayar banyak untuk pernikahan ini.”

Aku diam saja. Tidak tahu harus menanggapi apa.

Tapi tak bisa disangkal, aku terpengaruh juga untuk mem- perhatikan raut wajah kedua pengantin. Di mataku keduanya sama-sama tersenyum bahagia ketika menyalami setiap tamu undangan. Memang wajah pengantin perempuan lebih mero- na, tapi bisa jadi karena riasannya. Kemudian, kuperhatikan raut muka Danu lekat-lekat. Mencoba menemukan kesung- guhan dari setiap komentarnya. Rasanya aku ingin menggu- yur kepala Danu dengan cocktail yang sedang diminumnya. Ya Tuhan, bagaimana mungkin meminta dia menikahiku bila dia sendiri berkomentar sesinis ini tentang pernikahan.

“Kamu baik-baik saja, Sayang?”

Keningku berkerut mendengar pertanyaannya.

Dia memandangku lebih cermat dan terbelalak. “Mukamu pucat.”

“Yang benar?”

Aku tercengang. Refleks, kupegang pipiku. “Boleh bantu aku, Dan?”

“Ya.”

“Mungkin aku perlu minum atau tempat untuk duduk. Sepertinya korset yang kupakai terlalu ketat. Aku agak sesak napas.”

Danu mengangguk. “Tunggu sebentar.”

Sebenarnya itu alasan yang kukarang kepada Danu. Aku baik-baik saja dengan korset ini. Aku hanya mengalami serangan panik karena perkataan Danu barusan. Aku hampir tak bisa menahan marahku.

Tidak sampai semenit, Danu datang dengan segelas air putih dan mengajakku duduk di salah satu meja yang agak kosong—ya, karena sebenarnya ada seorang lelaki duduk di situ. Setelah berbasa-basi sebentar dengan lelaki itu, Danu mempersilakan aku duduk sementara dia pergi sebentar untuk mengambilkan minuman tambahan.

Awalnya kuabaikan lelaki itu, namun setelah beberapa saat, ketika ia mulai bicara sesuatu yang menarik perhatian- ku—jelas aku tidak bisa mengabaikannya.

“Lelaki itu siapanya Anda?”

Aku menoleh sebentar padanya dengan pandangan men- cemooh, lalu buru-buru memalingkan wajahku lagi. “Dia tadi sudah bilang, kan? Apa Anda tidak dengar?”

Dari sudut mataku, bisa kulihat pria itu tersenyum menye- ringai. “Saya perlu mendengar dari mulut Anda sendiri.”

“Apa urusan Anda?” sahutku tanpa ekspresi dan masih enggan melihat ke arahnya.

“Ini penting sekali!” ujarnya dengan nada percaya diri tinggi.

Lelaki ini cukup berhasil membuatku penasaran dan beralih menatapnya.

“Memangnya apa yang penting untuk saya ketahui?”

Ia melemparkan tatapan kasihan. Suaranya merendah. “Kekasih Anda punya affair di belakang Anda. Apa Anda tahu?”

Wajahku kembali memucat, sementara pria di sebelahku ini mengulas senyum manisnya sebelum meninggalkan meja.

“Kalau saya jadi Anda, saya akan meninggalkannya,” bisik- nya lirih di telingaku.

***

Resepsi pernikahan tadi sepertinya akan menjadi resepsi yang tidak pernah kulupakan.

Bisa saja aku tidak mengindahkan peringatan itu. Tapi, hati ini tidak bisa dibohongi. Perkataan semacam itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan.

Sampai Danu mengantarku pulang, aku berusaha menahan diri untuk tidak membicarakan apa yang dikatakan lelaki itu. Kalau aku mencoba mengungkapkan kegelisahanku ini kepadanya, kami hanya akan bertengkar tiada habisnya. Rasanya malam ini aku tidak punya energi untuk itu. Jadi, aku memilih bersikap biasa sejak kami meninggalkan resepsi tadi sampai aku tiba di rumah. Danu sempat mengajakku untuk makan di luar, tapi kutolak dengan alasan aku perlu menyelesaikan laporan keuangan bulanan FUN Pictures, karena kalau tidak, Ully akan menghadiahiku SP 1 besok.

Lagi pula aku tidak punya bukti. Selama tujuh tahun ini, hubungan kami terbilang bersih dari perselingkuhan. Sulit dipercaya bahwa Danu bisa melakukan itu padaku sekarang. Lebih besar kemungkinannya kalau lelaki tadi hanya iseng. Tapi... iseng untuk apa? Kami tidak saling kenal. Atau... tujuannya adalah Danu? Dia ingin menghancurkan Danu lewat diriku? Entah apa permasalahan yang ada di antara mereka berdua, tapi hal itu menggangguku. Itu membuatku gelisah. Bagaimana kalau yang dikatakan lelaki itu benar? Apa yang akan kulakukan?

Ingatanku berputar kembali sosok lelaki tadi. Harus

kuakui, dia lelaki tampan yang dengan mudah memesona perempuan mana pun yang melihatnya. Perawakannya de- ngan tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter―jelas jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata orang Indonesia, kulit kecokelatan, ekspresi wajah yang tegas dan mata kebiruan (sepertinya ada separuh darah Eropa di tubuhnya) bisa dengan mudah menarik perhatian para perempuan. Namun, ketika perempuan menutup hatinya pada lelaki lain, dia seperti sedang mengenakan kacamata kuda. Begitu pula denganku, aku hanya penasaran pada apa yang dikatakannya, bukan pada sosoknya.

Benarkah begitu? aku bertanya-tanya dalam hati dengan sangsi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar